MENEMBUS LANGIT MENJEMPUT CAHAYA SEBUAH REFLEKSI ISRA MI'RAJ 1447 HIJRIYAH
Di balik kemuliaan peristiwa Isra Mi'raj, tersimpan sebuah kisah tentang penghiburan Ilahi yang paling agung, yang bermula bukan dari pesta pora, melainkan dari kedalaman rasa duka. Sejarah mencatat momen itu terjadi setelah Rasulullah SAW melewati 'Amul Huzni atau Tahun Kesedihan, di mana beliau kehilangan dua sosok pelindung hatinya, Khadijah RA dan Abu Thalib, serta menghadapi penolakan yang menyakitkan dari penduduk Thaif. Di titik terendah itulah, Allah SWT tidak membiarkan Kekasih-Nya larut dalam kesedihan, melainkan mengundangnya dalam sebuah perjalanan suprarasional untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya yang melampaui batas logika manusia.
Pada satu malam yang hening, Malaikat Jibril AS datang membawa Buraq, tunggangan yang melangkah sejauh mata memandang, untuk membersamai Nabi dalam perjalanan Isra dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Perjalanan kilat ini bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi merupakan simbol persatuan risalah langit, di mana Rasulullah SAW menjadi imam shalat bagi ruh para nabi terdahulu, menegaskan posisinya sebagai penutup para Nabi dan pewaris risalah tauhid yang satu. Dari tanah Palestina yang diberkahi, perjalanan berlanjut ke tahap Mi'raj, sebuah pendakian menembus tujuh lapis langit di mana setiap pintu langit terbuka menyambut kedatangan manusia paling mulia ini dengan salam hangat dari para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Musa AS dan Nabi Ibrahim AS.
Puncak dari perjalanan agung ini adalah ketika Rasulullah SAW naik melampaui Sidratul Muntaha, sebuah batas di mana pengetahuan makhluk terhenti dan Jibril pun tak sanggup melangkah lebih jauh. Di hadirat Allah SWT Yang Maha Tinggi, tanpa perantara, Rasulullah menerima "oleh-oleh" terindah bagi umatnya, yaitu perintah shalat lima waktu; sebuah ibadah yang awalnya berjumlah lima puluh kali namun diringankan berkat kasih sayang Allah dan syafaat Nabi-Nya. Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa shalat bukanlah sekadar beban kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Sang Pencipta, laksana sebuah "Mi'raj" rohani bagi setiap orang beriman.
Kini, saat kita memperingati Isra Mi'raj di tahun 1447 Hijriah, kisah ini hadir sebagai pengingat yang relevan bagi jiwa-jiwa modern yang sering kali lelah oleh hiruk-pikuk dunia. Hikmah terbesar yang dapat kita petik adalah bahwa pertolongan dan kemuliaan dari Allah sering kali datang justru setelah kita bersabar menghadapi ujian yang berat, sebagaimana Nabi diangkat ke langit setelah mengalami kesedihan yang mendalam di bumi. Peringatan ini mengajak kita untuk memperbaiki kualitas shalat kita, menjadikannya sebagai tempat istirahat bagi jiwa, serta meneguhkan keyakinan bahwa seberat apa pun masalah yang kita hadapi di tahun ini, kita memiliki Allah yang Maha Besar, tempat kita bersujud dan memohon pertolongan.